Arsip Tag: Lumpia Gang Lombok

Wisata Kuliner Semarang yang Enak dan Populer

Wisata Kuliner Semarang yang Enak dan Populer

 Wisata Kuliner Semarang yang Enak dan Populer – Wisata kuliner Semarang menjadi salah satu wisata favorit bagi para pecinta kuliner. Pasalnya, wisata kuliner slot deposit 5000 di Semarang memiliki ragam makanan legendaris yang tentunya juga memiliki rasa lezat. Sontak hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Daftar Kuliner Semarang

Lumpia Gang Lombok

Rekomendasi pertama wisata kuliner di slot server kamboja Semarang adalah Lumpia Gang Lombok. Salah satu kuliner khas dari Semarang adalah lumpia, dan Lumpia Gang Lombok menjadi satu di antara toko lumpia yang cukup legendaris. Tak hanya varian rebung, di toko ini terdapat banyak varian lumpia yang tersedia. Seperti varian isi udang dan isi ayam. Lumpia Gang Lombok bisa bertahan hingga 3 hari untuk versi gorengnya, sedangkan untuk lumpia basah hanya bisa bertahan 1 hari. Lokasi Lumpia Gang Lombok berada di Jalan Gang Lombok No. 11, Purwodinatan, Semarang Tengah.

Tahu Pong Karangsaru

Tahu pong adalah singkatan dari tahu kopong. Tahu pong disajikan dengan bumbu kecapnya yang khas, lengkap dengan gimbal udang, petis dan bawang putih. Harga satu porsi tahu pong di Tahu Pong Karangsaru adalah sebesar Rp27.000. Lokasi wisata kuliner ini berada di Jalan Pringgading, Karangsaru, Semarang. Jam buka mulai pukul 11.00 hingga pukul 21.00 WIB. Namun, perlu diingat bahwa setiap hari Selasa, Tahu Pong Karangsaru tutup.

Bakmi Jowo Doel Noemani

Bakmi jowo khas Semarang memiliki sedikit perbedaan dengan bakmi jowo yang ada di kota-kota lain. Hal ini karena bakmi jowo khas Semarang memiliki rasa bumbu yang lebih legit. Selain itu, biasanya bakmi jowo khas Semarang disajikan bersama aneka sate dan uritan, daging, serta kulit yang dibakar.

Pisang Plenet

Kuliner ini sangat cocok bagi wisatawan yang sedang ingin menikmati pisang dengan kreasi berbeda. Dalam bahasa jawa, pisang plenet memiliki arti pisang penyet. Pembuatan pisang plenet ini pun berbeda, karena tidak digoreng, melainkan dibakar di atas bara api sampai layu dan berwarna kecoklatan, lalu diplenet atau dipenyet menggunakan papan kecil semacam talenan. Setelah itu, pisang dioles dengan margarin.